Sabtu, 07 November 2009

Samurai Sejati 22 - Jangan Bangunkan Satpam!


Tugas Satpam ialah menjaga dan memberi rasa aman pada penghuni area yang dijaganya. Dia akan menahan atau mengusir pengganggu kenyamanan penghuni.

Ternyata di otak kita ada yang berfungsi "menjaga kenyamanan" diri kita, yaitu yang disebut amygdala. Sebagaimana Satpam, tugasnya menangkal dan melumpuhkan ide, informasi yang potensial "mengancam kenyamanan" diri kita. Saat tiba-tiba kita dikejutkan oleh benda jatuh, ada kendaraan mau menabrak kita, atau ancaman lainnya, amygdala "memerintahkan" pikiran dan tubuh kita untuk bereaksi sangat cepat dan mengesampingkan hal-hal lain, sebagai refleks mempertahankan diri. Cara kerjanya adalah "reaksi cepat", ini bagus tentu, tapi kelemahannya sering emosional, kurang berfikir panjang. Kelemahan ini yang sering merepotkan kita.

Rupanya amygdala ini juga "menjaga" diri kita dari ide "perubahan " yang akan kita lakukan, yang potensial mengganggu zona kenyamanan (comfort zone) kita. Mengapa upaya peningkatan kualitas atau pengembangan diri seperti niat berolah raga, menurunkan berat badan, meskipun pikiran rasional kita menyatakan itu sangat penting, tetapi nyatanya kita sulit melakukannya. Itu antara lain karena amygdala menolak, karena dia spontan ingin "menyelamatkan" kita agar tetap dalam kenyamanan.

Ide perubahan seperti mengurangi berat badan dengan olah raga dan diet. Ide berhenti merokok. Ide menulis artikel, apalagi menulis buku, semuanya mengganggu "kenyamanan" diri kita. Biasa pagi baca koran sambil minum kopi kok harus olah raga. Biasa makan jerongan yang lezat, kok harus diet. Biasa menikmati sedapnya menghisap rokok, kok harus distop. Biasa santai kok harus mengerahkan pikiran untuk menulis. Maka amygdala bagaikan Satpam, bereaksi cepat mempertahan diri kita agar tidak usah melaksanakannya, agar nyaman dan tenteram.

Oleh karena itu, jika rasio kita mengendaki kita berubah, atau melakukan sesuatu yang sangat bermanfaat bagi diri dan tujuan kita. Maka lakukanlah itu "tanpa membangunkan amygdala". Caranya ialah bergerak tanpa menimbulkan "suara, kegaduhan", berjingkat, menyelinap bagaikan ninja, agar si Satpam tak terbangun.

Lakukanlah perubahan mulai dengan langkah-langkah kecil sederhana, sehingga "radar amygdala" tidak mendeteksinya, sehingga tak ada penolakan. Inilah prinsip dari "KAIZEN" alias continuous process improvement, yaitu proses perbaikan berkelanjutan.

Saya sendiri sudah merasakan manfaatnya. Di rumah saya punya persoalan dengan tumpukan dokumen dan buku ada dimana-mana, di ruang kerja, di garasi, di gudang. Tumpukan kertas yang menurut saya "nanti ada manfaatnya." Saking berantakannya sehingga untuk menyortir dan merapikannya bayangan saya perlu waktu dan kerja ekstra. Jadi kalau diingatkan istri, saya selalu mengatakan,"nanti kalau libur panjang." Tapi bisa ditebak, kalau libur panjang, Lebaran dan Tahun Baru, pasti untuk santai atau bepergian. Jadilah tumpukan kertas itu makin menggunung.

Saya berfikirnya nanti saja sekalian kerja bakti besar-besaran. Dan, masalahnya ternyata bukan kerja fisiknya saja. Masalah membuang barang milik adalah masalah psikologis, "sayang dibuang, siapa tahu proyek berikutnya perlu, atau ada kenangannya." Sehingga penolakan bathin ini juga faktor besar. Walau tumpukan barang membuat rumah seperti gudang, dan omelan terus datang.

Akhirnya saya pilih menerapkan prinsip "KAIZEN" ini. Pelan pelan tumpukan demi tumpukan saya tangani. Walau kadang cuma "tega" membuang satu dua paper tak apa, kalau teganya memang baru segitu. Saya jaga agar tidak seperti "kerja bakti", tapi kegiatan rutin seperti merapikan meja sebelum dan setelah bekerja. Ternyata ini berjalan tanpa perlawanan berarti dari “Satpam amygdala.” Setelah beberapa waktu, mulai tampak rak dan lemari jadi longgar. Ruang kerja jadi longgar, garasi dan gudang kelihatan dindingnya.

Bidang penerapan yang lain ialah olah raga. Bagi yang tidak hobi, anjuran pikiran untuk berolah raga itu selalu ada alasannya. Alasan paling klasik ialah tidak ada waktu. Apalagi bagi yang tinggal di wilayah Bodetabek, yang berangkat sebelum jam 6.00 pagi dan sampai di rumah paling cepat jam 18.00 malam. Tapi ternyata masih sempat nonton TV. Saran untuk gerak badan (tak usah disebut olah raga kalau ‘mengerikan’) di depan TV, mulai dari stretching, jalan di tempat, lari di tempat beberapa menit sambil tetap menikmati acara TV ternyata luamayan juga. Tanpa sadar sudah gerak badan 15 menit. Kalau ini bisa dikerjakan sungguh berbeda disbanding dengan beralasan tak oleh raga selama seminggu, sebulan, setahun sebelumnya. Seorang senior saya di kantor yang usianya di atas 60 tahun tapi masih menunjukkan kebugaran. Sungguh mengagumkan. Ketika ditanya apa olah raganya, ternyata jawabannya “lari-lari kecil di dalam rumah, atau di kamar hotel kalau sedang travelling.”

Saya sekarang sedang menerapkannya dalam meningkatkan volume minum air putih. Sekali lagi saya kapok gagah-gagahan, sehingga saya minum sedikit demi sedikit, tapi botol air mineral selalu ada di samping. Tanpa sadar 3-4 botol terminum juga tiap hari. Sekali lagi kuncinya adalah kaizen, perlahan agar “Satpam amygdala” tidak sampai bangun, sehingga menciptakan alasan untuk menunda.

Kesimpulannya, "think big, start small, act now." Biasanya kita gagah-gagahan pasang taget besar, tapi selalu ada alasan, "tunggu kalau ada waktu, ada uang, kalau yang lain juga siap." Nyatanya, comfort zone kita juga terlalu nyaman untuk ditinggalkan.

"Change or die!" kata orang. Iya lah, tapi mulai pelan-pelan, jangan sampai Satpam amygdala di otak kita bereaksi. Kata ludruk Suroboyoan "ojo nggugah asu turu," jangan bangunkan anjing tidur. Kalau amygdale kita sadar, ada saja argument yang dibisikkan ke pikiran untuk tetap nyaman, tunggu waktu lah, uang lah, teman lah, nanti saja sekalian. Act now! Selamat mencoba. [rm]

* Risfan Munir adalah penulis buku “Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati.”(Gramedia Pustaka Utama, 2009) dan "Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif" (LGSP, 2004, 2008). Kolumnis tetap pada www.AndaLuarBiasa.com.

Samurai Sejati 21 - Surrogate

Surrogate” adalah judul film terbaru Bruce Willis. Film ini mengajak kita untuk berpetualang melihat dua dunia. Dimana manusia sudah begitu tidak percaya diri untuk tampil sebagai manusia biasa, sehingga mereka beli surrogate alias "robot pengganti." Dengan banyaknya robot pengganti yang postur tubuhnya betul-betul mirip pemiliknya itu, maka yang tampil ke masyarakat dan berinteraksi adalah robot-robot itu. Sementara "diri aslinya" terbaring pada dipan atau kursi pengendali di rumah masing-masing.

Setelah terlarut mengikuti alur film itu, dalam batas tertentu kok saya mengaitkannya dengan masyarakat kita yang perilaku keseharian di masyarakatnya juga mirip metafora masyarakat Surrogate tersebut. Kita semua tanpa sadar menjadi mirip robot-robot yang 'lebih indah dari aslinya' itu. Masyarakat di perkotaan kita banyak yang bersikap dan berdandan artifisial dengan senyum dan kata-kata yang distandarisasi oleh buku etiket, berpakaian menurut standar pabrik yang mendiktekan model. Mimik wajah, pakaian dan tindakan yang kita lihat sudah semakin artifisial dan nyaris mengikuti standar gaya dan merek yang didiktekan melalui iklan tiap saat. Kehidupan menjadi arena dan panggung sandiwara saja. Sementara masing-masing individu aslinya yang orisinil, manusiasi, tersembunyi di dalam kamar-kamar dalam rumah-rumah yang jarang dibuka. Mereka jarang bisa ditemui. karena lebih memilih menyembunyikan diri.

Dalam hal ini mungkin berlaku pesan pujangga Ronggowarsito "seuntung-untungnya orang yang lupa, masih lebih beruntung orang yang waras." Dapat ditebak di film Surrogate yang waras adalah lakonnya Greer (Bruce Willis) si agen FBI dan Pencipta robot-robot itu. Mereka berdualah yang hidup di "dunia sejati", yang melihat "dunia robot" sebagai panggung sandiwara atau olok-olok saja, yang cerita dan perannya bisa dirubah-rubah tiap saat.

Sementara itu di masyarakat juga telah timbul kelompok pemberontak yang dipimpin oleh seorang “Nabi” kharismatis yang muak dengan “kehidupan surrogate” yang serba palsu yang dikendalikan oleh konglomerat produsen robot/surrogate itu. Kelompok ini melakukan demo dan rekrutmen pada event-event dan tempat-tempat tertentu yang strategis untuk berencana melakukan makar, sabotase dan lainnya. Kisah menjadi sedikit rumit setelah Sang Nabi ternyata begitu kuat, menguasai teknologi perusak surrogate, dan punya sumber dana yang mantap pula.

Sebagai seorang detektif situasi Greer sesungguhnya dilematis. Di satu sisi dia menggunakan robot/surrogate sebagai perangkat, tapi dia juga ingin kehidupan asli bersama istrinya (yang lebih suka tampil sebagai robot). Sementara itu tugasnya adalah mengawasi Sang Nabi, pemberontak yang anti konglomerat pencipta –robot-robot itu. Sehingga hati kecilnya sebetulnya setuju dengan misi kelompok nabi pemberontak itu.

Begitulah kisahnya yang kian rumit setelah Greer tahu bahwa ternyata Sang Nabi itu sesungguhnya juga sebuah robot yang merupakan wajah lain atau surrogate dari Sang Konglomerat sendiri. Jadi rupanya tokoh pemberontak itu sesungguhnya adalah Sang Konglomerat sendiri. Inilah puncak sandiwaranya.

Selanjutnya mungkin kita akan menghubung-hubungkannya dengan realitas di masyarakat kita. Jangan-jangan yang selama ini kita anggap musuh penguasa dan masyarakat, ternyata adalah ….. Tetapi pesan yang dapat diambil pelajaran ialah “jangan terlalu cepat menilai dari apa yang tampak diluar,” karena dibalik itu realitanya bisa kebalikannya.

Sekali lagi, sang Samurai Sejati Musashi mengingatkan pentingnya membebaskan pikiran dari cengkeraman berbagai bingkai (frame atau reframe) yang dibuat oleh para pengiklan, juru kampanye di berbagai media, ataupun yang lewat obrolan tetangga. Sebagaimana pesan TVRI tempo dulu, “teliti sebelum membeli.” Uji setiap iklan, kampanye, opini dari siapapun yang berpotensi mempengaruhi keputusan kita, dengan fakta yang ada, konfrontasikan dengan opini yang berlawanan, bertanyalah pada hati kecil sendiri,”Apakah yang ditawarkan itu memang kebutuhan riil kita?”


* Risfan Munir adalah penulis buku “Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati.”(Gramedia Pustaka Utama, 2009) dan "Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif" (Perform-LGSP, 2004, 2008). Kolumnis tetap pada www.AndaLuarBiasa.com.

Senin, 08 Juni 2009

Samurai Sejati 20 - Menjadi Musuhmu

"Menjadi Lawanmu, berarti berpikir seolah tubuhmu menjadi tubuh lawan. Kalau kamu amati, orang cenderung berfikir bahwa seseorang yang melakukan perampokan dan berhasil menyembunyikan diri atau menghilang sebagai lawan yang kuat. Padahal ia sebenarnya berpikir bahwa seluruh dunia memusuhinya dan tak ada jalan untuk melarikan diri" demikian kata Musashi. Karena itu milikilah keyakinan teguh bahwa kau akan mengalahkannya, lanjutnya.

Pesan yang jelas, baik dalam menghadapi lawan, maupun menghadapi audience yang perlu "dikalahkan" perhatiannya. Sebagai fasilitator atau trainer, seringkali kita harus berhadapan dengan audience yang status kedudukan dan pendidikan formalnya di atas kita. Wajar kalau ada grogy, tapi dengan kesadran bahwa mereka datang ke forum memang didorong oleh suatu kebutuhan, dan kita bisa memfasilitasinya, maka kita selayaknya percaya diri.

Contoh mudahnya adalah pelatih tenis, umumnya pemuda biasa yang bekerja di klub, sedng yang dilatih adalah para manajer menengah ke atas. Dia tidak canggung, karena yakin meskipun orang-orang itu tinggi jabatan dan pendidikannya, nyatanya butuh petunjuknya dalam bermain tenis. Tentu contoh lain adalah caddy lapangan golf, yang tak jarang juga mengajari bos yang didampinginya, tapi....(silahkan pahami pikiran nya).

Sering kita berasumsi bahwa atasan, manajer, direktur, pemimpin kita adalah orang yang serba tahu, kuat, stabil jiwanya, berani, mumpuni. Pendidikan dan frame masyarakat mengajarkan demikian. Tapi nyatanya, pemimpin juga manusia. Seperti kita sebagai pemimpin lingkungan sendiri punya kekuatiran, tidak serba bisa. Atasan dan pemimpin kita juga begitu. Bayangkan diri kita di posisi dia. Apa yang dikuatirkan, yang terasa sebagai kelemahan. Lalu sampaikan usulan, jangan cuma menunggu. Hanya caranya mesti hati-hati, karena namanya atasan biasanya "ja-im" (jaga image). Ini bisa diatasi pakai teknik bertanya, "what if", bagaimana kalau...? Kalau kita berhasil disini, ini artinya kita yang didukung pimpinan.

Pada situasi lain, memahami lawan ini juga bisa diartikan sebagai "memahami lawan bicara." Betapa sering komunikasi tidak berjalan, karena kedua pihak tidak berusaha menempatkan diri pada sisi lawan bicaranya. Tak ada empathy. Masing-masing ingin berlomba menyatakan pendapat dan unek-uneknya, tanpa upaya mendengar. Ini fenomena umum di masyarakat, di sekitar, dan di antara kita sendiri, terutama saya. Pahamilah lawan, demikian pesan tersirat Musashi (Risfan Munir, Siantar - Tebingtinggi)

Senin, 18 Mei 2009

Samurai Sejati 19 Branding, Labelling

Musashi dan para bushido (sebutan untuk samurai) mengajarkan "kejernihan" pikiran, agar tetap obyektif menilai situasi, dan tidak terkecok oleh tipu daya atau provokasi lawan.
Pada masa kini kita tiap hari dibanjiri informasi, peraturan, metode, tools, dst. Kalau kita sulit memilih dan menyerap informasi. Maka demikian juga audiens atau klien kita. Sehingga branding, packaging, dan pelabelan nama atas produk diperlukan. Agar klien dan audiens kita terpikat, ingat, "beli", dan menerapkannya.

Produk planning, manajemen pembangunan, manajemen pelayanan, kebijakan publik, sudah saling komplementer dan jadi "hujan informasi" bagi klien kita. Hanya dengan petunjuk packaging yang pas, sesuai kebutuhan (demand) dan selera klien, itu akan ditangkap dan di"beli" oleh mereka.

Ini ibarat makanan. Di seluruh dunia mayoritas manusia makan: karbohidrat, protein, vitamin, mineral. Bahanya juga itu-itu saja: padi, gandum, jagung, sayur, biji-bijian, daging, susu, ikan. Rasanya juga paduan: manis, pahit, asam, asin.
Namun dengan komposisi tertentu, nama masakannya di dunia ini bisa jutaan. Soal kuah saja ada soup, soto, rawon, kare, opor, gule, goulas, timlo, baso kuah, dst.
Nama-nama menu makanan itu adalah "label" paling tua, yang membuat asosiasi asosiasi budaya, tradisi dan selera bagi penikmatnya. Kita bisa sangat suka pada "soto" tapi benci pada "sup" tertentu. Padahal ingredients nya bisa (hampir)sama.
Lebih jauh lagi ditambah dengan "branding". Kita bisa suka Soto Lamongan, tapi tidak suka Soto Ambengan. Padahal sama-sama soto. Apanya yang beda.
Sebagai planner atau ahli manajemen pelayanan, kita tahu strategic planning (misalnya). Menurut pelajaran sekolah dan literatur kan ya itu-itu saja, baik arti, tahapan proses, alat-alat nya (SWOT, Analisis Gap, Prioritisasinya, dst). Tapi rasanya sudah belasan kali paket strategic planning itu muncul dengan "nama" dan "bumbu" dan otorisasi instansi yang berbeda. Adalah perbedaan masing-masing. Tapi beda itu kan seperti beda pizza "american favorite" vs "super-supreme" vs "meat-lover" dst. Alias topping nya saja beda.
Tentu saja dari masa ke masa ada penyempurnaan dari "strategic planning" sesuai situasi dan kondisi lingkungan. Sekarang harus lebih partisipatif, berbasis kinerja, otonomi daerah. Tapi hakikatnya kan masih sama.

Kesimpulannya:
Pertama, sebagai konsumen sebaiknya kita berfikir obyektif, ingat hakekat, kebutuhan generik kita apa. Jangan sampai kita pilih lokasi rumah (dihuni jangka panjang) dengan pertimbangan ada "undian blakberry"nya.
Kedua, sebaliknya sebagai "penjual" jasa, kita harus bisa membuat paket dan nama produk yang menjawab harapan, kebutuhan, keinginan dan solusi atas masalah/ kekuatiran klien. Dengan nama yang keren, gaya, canggih, tapi tahapannya gampang, harganya jelas, masuk plafon anggaran.
Jadi gunakan pengetahuan branding, labelling. Tapi juga untuk bisa bebas dari bujukan iklan yang mengungkit "keinginan, hasrat" kita yang tak perlu.
(Risfan Munir, Medan, Mei'09).

Sabtu, 16 Mei 2009

Samurai Sejati 18 - Branding, Framing, Reframing

Menanggapi respons "berfikir tanpa terikat", tampaknya mengarah kepada "branding", promosi/ kampanye dan ter/mengecoh. Juga mindset dan paradigma.

Topik-topik ini bisa berlaku pada kita yang bertujuan promosi, persuasi; tapi juga sebaliknya, untuk waspada saat orang lain membujuk kita.

Musashi, sang samurai sejati mengajarkan agar kita senantiasa obyektif, jernih, tidak terkecoh, termasuk oleh praduga sendiri.

Mengenai "branding", teknis lengkapnya di buku pemasaran tentu lebih lengkap. Label yang kita pasang secara konsisten, ditampilkan eksplisit berulang-ulang bisa jadi teknik praktis. Saya pengalaman menyampaikan PEL (pengembangan ekonomi lokal) dan "cluster" menerus selama hampir empat tahun. Hasilnya orang mengenal saya sebagai Ahli PEL atau Mr. Cluster. Padahal secara akademis saya regional planner. Ini menguntungkan, tapi saat saya harus berperan sebagai konsultan manajemen pelayanan, label ahli PEL saya sulit dilupakan orang. Sehingga meskipun saya penulis module manajemen pelayanan publik, teman-teman masih menganggap tugas saya mengurusi PEL saja.

Sebagai obyek, kebanyakan kita kecewa dengan kenyataan dibalik kampanye atau promosi. Pertama, karena kita terjebak harapan kita sendiri. Umumnya kaum intelek (non politik) melihat tokoh dan tema kampanyenya dari frame "etika", penegakan kebenaran. Tapi, politikus menganggap politik sebagai "taktik/strategi" menang semata. Visi, misinya bisa benar bisa setengah benar, atau buatan konsultannya saja. Skornya bisa 0-100 persen.
Kita mudah terkecoh karena harapan kita sendiri. Biasanya karena kecewa, lalu "asal bukan dia" jadi alasan.
Untuk kampanye, promo atau persuasi, psikologi audiens yang dimanfaatkan adalah motivasi "harapan" dan "kekuatiran/ ketakutan."
Iklan kosmetik manfaatkan "harapan" bisa secantik bintang film. Iklan obat manfaatkan "kekuatiran" akan penyakit. Promosi module kita, bisa memainkan keduanya.
Formulanya: "Takuti - Solusi - Tindakan (yang harus audiens lakukan)". Sekarang musim DBD, lalu sodori temuan obat baru, lalu silahkan/tunjukkan merek dan cara belinya.
Atau lewat harapan, "Kebutuhan (sadarkan audiens) - Solusi (tawaran kita) - Tindakan". Aduh bahagianya punya anak sehat, rahasianya gizi lengkap, itu ada di "Milk 123", tunjukkan dimana belinya.

Keterbatasan audiens, konsumen, publik: mereka cnderung gampangan. Kalau jualan kita rumit, mereka akan mengabaikan. Mereka cenderung dikotomis: ya/tidak, hitam/putih, kalah/menang, kawan/lawan. Sementara realita, dagangan kita tentu ada "diantara"nya. Persoalannya bagaimana kita "memaketkan" nya (packaging) agar produk atau solusi yang kita tawarkan "jelas" bagi mereka.
Audiens atau publik juga butuh sesuatu yang tangible, bisa dilihat, dihitung, bahkan diraba (dirasakan). Menjelaskan konsep sehat, cantik, pandai tentu lebih mudah dengan menampilkan gambar bayi gemuk, bintang terkenal, profesor ternama.
Lalu, endorsemen juga penting, karena konsumen/publik kan belum pernah merasakan sebelumnya (kecuali kampanye incumbent), maka testimoni tokoh, rekomendasi instansi berotoritas juga penting.

Kesimpulannya: kita punya banyak ilmu, kalau boleh GR. Tapi belum kita paketi dalam modul-modul, nama-nama yang mudah difahami, yang dekat dengan kebutuhan audiens/ konsumen.
Kita sebagai konsumen gak mau tau bagaimana wartawan kehujanan, kepanasan, bagaimana proses editing dan penerbitannya. Kita cuma peduli, langganan murah, dibacanya "enak dan perlu".
Jadi yang perlu kita tonjolkan, Apa Manfaat Bagi Konsumen (AMBAK). Dipaketi dengan langkah yang jelas terukur (7 Langkah), diberi nama yang menarik dan mudah (SIAP, PERFORM, BUILT, SENADA, AMARTA). Pemda umumnya sudah dihujani produk-produk dengan singkatan berawalan "P", kalau kita tambahi akan mudah dilupakan.
Musashi memberi nama modulnya "5 Lingkaran" dengan tahapan bab: Tanah, Air, Angin, Api, dan Kehampaan. (Risfan Munir, Cengkareng-Medan, Mei '09).

Samurai Sejati 17 - Berfikir Tanpa Terikat

Ini masih terkait "think out of the box".
Alkisah seorang guru samurai sambil mengangkat sebuah tongkat sambil bertanya, "Apakah ini?" Sejenak muridnya ragu menjwab. Sang guru melanjutkan, "Jika kau sebut ini tongkat, pikiranmu "terlekat". Jika kau menyebutnya bukan tongkat berarti kamu "mengabaikan". Jadi menurutmu ini apa?"
Ini kata mutiara yang sulit dicerna. Tapi pesannya jelas agar sang samurai tidak terjebak "kotak" pikirannya sendiri, dalam menilai situasi dan lawan.
Sekali memberi "nama" atau predikat pada suatu benda, orang atau situasi, maka pandangan kita sudah kurang obyektif. Karena nama membawa konotasi. Kalau menyebutnya tongkat, maka segera muncul dugaan sebagai alat pemukul, dst. Sementara kalau menyebutnya kayu, bisa menduga itu bahan bangunan, kayu bakar.
Contoh aktual ialah saat SBY mengumumkan nama Boediono sebagai Cawapresnya. Reaksi berbagai kalangan secara sepontan: Kok orang Jawa juga? Agamanya apa? Jangan-jangan penganut neoliberal?
Pertanyaan-pertanyaan ini muncul karena mereka merenspons atas dasar "frame" pikiran masing-masing, dan "labeling" atas latar belakang masa lalu sang cawapres. Sebagian besar lupa "fakta obyektif" bahwa Pak Boed pernah jadi Menteri Perencanaan Pembangunan, Menkeu, Gubernur BI, artinya petinggi senior yang tidak aneh-aneh amat.
"Kelekatan pikiran" ini juga menyangkut citra diri kita sendiri, atau pengalaman masa lalu/kini yang kita proyeksikan ke situasi masa depan yang mungkin beda.
Contohnya, ada seorang Bupati teladan, terpilih sebagai Bupati paling inovatif, transparan. Hasil kerjanya jadi good-practice yang dibicarakan dalam berbagai seminar. Karena suksesnya kemudian terpilih menjadi gubernur.
Rupanya jurus suksesnya dia bawa ke tingkat provinsi juga. Di situlah persoalannya. Kewenangan gubernur beda dengan bupati, begitu pula situasi lingkungannya. Lebih runyam lagi, dia bawa manajernya "bedol desa" ke provinsi. Mereka sama-sama membawa paradigma kabupaten ke lingkungaan kerja yang berbeda. Akibatnya, di provinsi kinerja mereka tak seoptimal di kabupaten. Sementara kabupaten yang ditinggalkan mereka kinerjanya juga menurun.
Citra diri (branding?), identifikasi diri penting supaya orang lain mudah mengenali kita, dan kita sendiri punya kemantapan mau jadi apa, mau kemana. Tapi harus hati-hati pula agar tak terjebak olehnya, sehingga salah merespon peluang dan situasi yang ada. Karena sejarah bisa berulang, tapi tak pernah persis sama. (Risfan Munir, Cengkareng-Bekasi, Mei '09)

Senin, 11 Mei 2009

Samurai Sejati 16 - Think Out of The Box

Musashi tak percaya pada kamae (kuda-kuda atau posisi tertentu saat akan bertarung), yang biasa dilakukan petarung samurai (karate atau lain). Dia memilih mengambil posisi awal yang tidak baku, tapi berbeda-beda (kreasi sendiri) tergantung situasi dan lawan. Dia selalu memilih berfikir "out of the box", tidak itu-itu saja.

Ini memang didasari latar belakangnya yang otodidak. Berbeda dengan prajurit samurai yang umumnya belajar dari dojo, atau sekolah. Karena miskin, dia belajar samurai sendiri.

Berkelahi dengan cara konvensional, menurut dia berarti cari mati. Lawan akan segera membaca arah gerakannya.

Kemenangannya dalam 60 duels antara usia 13 hingga 30 tahun membuktikan keunggulan strateginya. Dia lebih menekankan pada pengenalan lawan, pengenalan medan pertempuran, dan menyiapkan strategi yang sesuai. Dari pada sibuk menghafal jurus-jurus konvensional. Petarung yang sibuk menghapal jurus sebelum bertarung, menurut dia seperti "berkonsentrasi pada mekarnya bunga, tapi lupa memetik buahnya."

Pelajaran yang dapat ditarik. Meskipun kita berangkat dari ilmu sekolah, teori dan konsep baku, tapi - dalam hidup atau bekerja - perlulah fokus pada tujuan, pada klien. Kata Bob Sadino, kualitas itu tidak ditentukan oleh indikator ilmiah, akademis (semata), tapi justru oleh penerimaan klien.

Betapa sering kita menertawakan klien, audien, karena menurut kita "bodoh", menyimpang dari asumsi kita, persepsi kita yang kaya teori. Tapi jangan lupa, tujuan kita adalah menang atas klien. Merebut hati audiens. Agar mereka membeli atau menyerap ilmu yang kita tawarkan. Agar mereka menjadi lebih baik, berubah. Begitukah? Sekali lagi: "think out of the box", jangan terjebak ilusi atau asumsi sendiri atas situasi yang akan dihadapi. (Risfan Munir, Simpang Lima, Semarang)